Indonesia Development Monitoring Research

IDM Research

2007/8/14

Ekonomi Paper Positioning FSP BUMN Bersatu Mengenai Penjualan Saham Bank BNI oleh Pemerintah Indonesia.

Tags:
@ 12:34 AM (27 months, 6 days ago)

Ekonomi Paper Positioning FSP BUMN Bersatu Mengenai  Penjualan Saham Bank BNI oleh Pemerintah Indonesia.

Latar Belakang

Saat ini perekonomian Indonesia masih membutuhkan permodalan yang besar untuk berkembang. Dan ia melihat kondisi korporasi di Indonesia juga belum sepenuhnya mampu untuk memenuhi investasinya dengan mengandalkan kemampuan sendiri (modal sendiri).Biasanya sektor perbankan yang berperan untuk mengambil alih masalah permodalan untuk pertumbuhan ekonomi.


Menyimak Penjualan saham BNI  yang dilakukan oleh Pemerintah atau dengan kata politiknya obral penjualan aset negara yang Strategis oleh Pemerintahan SBY/JK merupakan suatu Salah kaprah yang besar , karena penjualan ini terkesan dipaksakan dan tanpa perhitungan yang matang , saham BNI diobral murah karena dijual pada harga terendah, Rp2.050, dari kisaran harga yang ditetapkan semula Rp2.050-Rp2.700 per saham ,menurut  analisa FSP BUMN Bersatu  bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang ambigiu ."Biasanya peningkatan pertumbuhan ekonomi akan mendorong penyaluran kredit perbankan, tetapi di Indonesia tidak, meski pertumbuhan ekonomi tinggi di atas lima persen tetapi penyaluran kredit perbankan tidak ikut meningkat, ini aneh," karena Harga saham Perbankan akan menjadi harga bluechips , apabila penyaluran kredit berjalan dengan baik ,karena profit Perbankan hampir 90 persen didapat dari penyaluran kredit , jadi dengan kata lain penjualan saham BNI merupakan kesalahan fatal yang menyebabkan Company value dari Bank BNI menurun , dan membuat kepercayaan Publik terhadap Perbankan BUMN makin menurun. Kesalahan Fatal dari penjualan saham Bank BNI  tidak digunakan untuk menambah permodalan bank BNI tapi digunakan untuk menambal APBN

Kondisi bursa saham global yang terpuruk dianggap sebagai biang kerok rendahnya harga divestasi itu oleh Meneg BUMN Sofyan Djalil dan penjamin pelaksana emisi PT Bahana Securities, dan dibantu JP Morgan Securities.

Lalu dengan kondisi bursa saham yang terganggu, apakah negara Indonesia tidak layak mendapatkan hasil divestasi saham BNI dengan harga yang lebih optimal? Selain kondisi bursa saham yang lagi jelek, kisaran harga saham BNI dinilai terlalu lebar dengan batas atas yang terlalu tinggi Rp2.700 per saham.

Entah atas dasar pertimbangan apa pemerintah dan penjamin emisi memutuskan kisaran harga tersebut, tetapi batas atas itu harganya tak jauh berbeda dengan harga saham BNI di pasar. Padahal, Bahana Securities dan Sofyan Djalil sepakat menyatakan harga pasar BNI tidak mencerminkan fundamental yang sesungguhnya. Pada saat harga penawaran BNI diumumkan ke publik pada 16 Juli, harga pasar saham bank BUMN itu mencapai Rp2.562 per saham.

Pemerintah Indonesia mempunyai kesempatan menunda pelaksanaan divestasi BNI atau memangkas jumlah saham yang dijual. Dan Meneg BUMN  Sofyan Djalil  sebenarnya masih memiliki waktu lima bulan untuk menutup target privatisasi Rp4,7 triliun.

Pernyataan Sikap FSP BUMN Bersatu

1.      Meminta Kepada DPR untuk membentuk pansus penyelidikan penjualan Saham Bank BNI yang diobral murah murah sehingga terkesan merugikan rakyat Indonesia

2.      Meminta kepada Pemerintah SBY/JK untuk menghentikan sementara Penjualan BUMN BUMN dengan harga dibawah Pasar.

3.      Meminta kepada Meneg BUMN untuk lebih berhati hati dan melakukan due diligence yang komprehensif dalam menjual aset aset negara agar tidak terlalu murah .

4.      Meminta Bapepam LK agar mengawasi agar tidak terjadi goreng mengoreng saham bank BNI.

5.      Meminta Kepada Bapepam,MENEG  BUMN untuk menghentikan sementara penjualan saham bank BNI atau menguarangi volume penjualan saham bank BNI agar Company value dari bank BNI bisa meningkat.

FEDERASI SERIKAT PEKERJA BUMN BERSAT

  )